Dalam beberapa tahun terakhir istilah Biostimulant menjadi begitu popular dalam ekosistem pertanian di dunia termasuk di Indonesia.  Mengapa Biostimulant menjadi menarik di Tengah kejenuhan pertumbuhan produksi pertanian dunia akibat ketergantungan terhadap agroinput kimia yang di mulai sejak era revolusi hijau di era 1940-an dan juga isu perubahan iklim yang cenderung ekstrim yang juga ikut berkontribusi dalam penurunan kapasitas produksi pertanian.

Definisi Biostimulant

Secara umum Biostimulant di definiskan sebagai bahan bahan termasuk mikroorganisme yang dapat di aplikasikan pada tanaman yang dapat membantu tanaman dalam meningkatkan kualitas hasil, meningkatkan efisiensi penyerapan pupuk dan juga meningkatkan ketahanan tanaman dari stress abiotic (Karena perubahan iklim).

Dengan definisi ini tentunya ada beberapa kelompok biostimulant berdasarkan bahan pembuatnya secara presentasi di dominasi oleh Ekstrak rumput laut, Humic Substance, Vitamin dan Asam Amino, Mikroba pembenah tanah dan bahan lain lainnya.

Ekstrak rumput laut mendominasi pasar biostimulant (35.7%) dikarenakan  secara sumber bahan baku mudah di akses dengan banyaknya budidaya rumput laut di seluruh dunia sehingga secara biaya produksi menjadi paling kompetitif di bandingkan bahan lainnya.

Dan dari sisi fungsi biostimulant umumnya di kelompokkan sebagai pemacu pertumbuhan (Growth Promotor), Peningkat kesuburan tanah (Soil Fertility Enhancement), Peningkatan efisiensi penggunaan pupuk (Nutrient usage enhancement) dan peningkat perkecambahan benih (Seed germination enhancement),

Pasar Biostimulant Dunia

Ukuran pasar biostimulan global bernilai USD 4 miliar (Rp. 80 Triliun) pada tahun 2025. Pasar ini diproyeksikan tumbuh dari USD 5,07 miliar (Rp. 90 Triliun) pada tahun 2026 dan di prediksi akan menjadi USD 12,86 miliar (Rp 235 Triliun) pada tahun 2034, dengan mencatatkan pertumbuhan CAGR sebesar 12,34% per tahun selama periode perkiraan. Amerika Utara mendominasi pasar biostimulan dengan pangsa pasar sebesar 21,43% pada tahun 2025. Para pemain utama yang beroperasi di pasar ini meliputi UPL Limited, BASF SE, Syngenta Group, Corteva Agriscience, FMC Corporation, Bayer AG, Sumitomo Chemical Co. Ltd., Novonesis Group, Koppert B.V., Valagro SpA, Nufarm Limited, Acadian Seaplants Limited, dan Qingdao Seawin Biotech Group; mereka mencerminkan lanskap persaingan yang mencakup perusahaan agrokimia global, pengembang produk hayati yang berfokus pada bidang tersebut, serta pemimpin pasar regional.

Pasar biostimulan Amerika Utara menguasai pangsa pasar global sebesar 17,8% pada tahun 2025, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 12,2%. Amerika Serikat menyumbang porsi terbesar dari volume regional; adopsi ini didorong oleh berkembangnya sektor pertanian organik yang membutuhkan input biologis yang diizinkan, integrasi pertanian presisi yang memberikan pembenaran secara ekonomi, serta persyaratan keberlanjutan yang tercakup dalam standar pengadaan di seluruh rantai pasok pangan.

Pasar Eropa menguasai pangsa sebesar 23,3% pada tahun 2025 dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 11,1%; wilayah ini merupakan pasar regional paling matang yang dicirikan oleh kerangka regulasi paling maju secara global serta tingkat adopsi tertinggi di tingkat pertanian pada berbagai sistem tanaman utama.

Pasar Asia-Pasifik menguasai pangsa regional terbesar sebesar 22,9% pada tahun 2025 dan mencatatkan laju pertumbuhan tahunan (CAGR) regional tercepat sebesar 11,2% hingga tahun 2035; sebuah kombinasi antara skala dan kecepatan yang didorong oleh besarnya pasar Tiongkok, percepatan di India yang didukung oleh kebijakan, serta meningkatnya adopsi di Asia Tenggara. Tiongkok merupakan pasar negara terbesar di kawasan ini, dengan produsen domestik—termasuk Qingdao Seawin Biotech Group—melayani operasi komersial berskala besar melalui jaringan penyalur yang mapan, program pemerintah yang mengurangi ketergantungan pada input sintetis di zona perlindungan ekologis tertentu, serta sistem produksi buah dan sayuran berskala luas yang secara nyata membuktikan nilai manfaat biostimulan. Di India, skema *Soil Health Card* (Kartu Kesehatan Tanah)—yang telah mendistribusikan lebih dari 220 juta kartu analisis tanah tingkat petani untuk mengarahkan mereka pada pengelolaan nutrisi yang seimbang dan efisien—telah menciptakan permintaan struktural akan produk-produk yang meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi, sehingga secara langsung mendorong adopsi biostimulan pada segmen tanaman sayuran dan buah-buahan.

Sektor pertanian organik yang berkembang di seluruh negara-negara Amerika Selatan, seperti Brasil dan Argentina, diproyeksikan akan berkontribusi pada peningkatan permintaan produk tersebut di seluruh wilayah. Selain itu, pemerintah Amerika Selatan telah mempromosikan praktik-praktik yang berkontribusi pada pengurangan masalah sosial dan lingkungan melalui teknik pertanian berkelanjutan dan mendukung penggunaan produk-produk ini.

Pasar Timur Tengah & Afrika menghasilkan pendapatan sebesar USD 0,11 miliar pada tahun 2025, mewakili 2,48% dari lanskap pasar global, dan diperkirakan akan mencapai USD 0,12 miliar pada tahun 2026. Sektor pertanian masih dalam tahap awal perkembangannya; meskipun Timur Tengah merupakan wilayah yang paling kekurangan air dan paling kering di dunia.

Faktor pendorong pertumbuhan pasar Biostimulan

Meningkatnya kesadaran akan dampak negatif terhadap lingkungan yang disebabkan oleh produk perlindungan tanaman sintetis dan pupuk berbasis kimia telah mendorong pertumbuhan pasar pertanian ramah lingkungan. Petani semakin mencari pilihan ramah lingkungan dan alami untuk menghasilkan tanaman mereka.

Pemerintah di banyak negara meluncurkan program untuk mendidik petani tentang berbagai manfaat solusi bio-pertanian. Upaya pemerintah ini diproyeksikan akan secara signifikan membantu pertumbuhan pasar di tahun-tahun mendatang.

Tekanan biaya agroinput konvensional (Chemical base) yang semakin tinggi yang tidak di imbangi dengan peningkatan produksi hasil pertanian meningkatkan trend adopsi teknologi alternatif dan atau teknologi pelengkap dari yang sudah ada dan umum di gunakan.

Dan yang tidak kalah pentinganya yaitu factor perubahan iklim dunia yang berdampak negative terhadap produksi hasil pertanian mendorong percepatan adopsi

Tantangan Pasar Biostimulant

Beberapa tantangan pasar yang masih di hadapi dalam industry biostimulant Adalah :

Regulasi tentang biostimulant masih sangat bervariasi dari setiap negara.  Beberapa negara masih menggabungkan dengan pestisida dan pupuk konvensional sementara Sebagian lagi sudah memisahkan biostimulant sebagai kategori tersendiri.

Standarisasi produksi, mengingat ini merupakan kategori baru dalam industry agroinput dan juga sumber bahan baku yang berbeda di masing masing negara/produsen maka standarisasi kualitas masih menjadi tantangan untuk setiap kategori.

Kapasitas produksi juga merupakan tantangan tersendiri.  Negara negara eropa seperti Perancis, Italia, jerman dan belanda serta amerika utara relative memiliki kapasitas produksi yang memadai untuk memenuhi permintaan di dalam negeri.  Akan tetapi negara seperti amerika Selatan dengan Tingkat adopsi biostimulant yang tinggi masih menghadapi kendala dalam hal local produksi dan masih menggantungkan dari product import.  Sementara di Asia pacific, China dan India menunjukan tren pertumbuhan kapasitas produksi yang sangat significant dari tahun ke tahun

Social dan perilaku budaya merupakan faktor penting dalam kecepatan adopsi .  Sikap petani terhadap inovasi, keberanian petani mengambil resiko serta kepercayaan terhadap rekomendasi tenaga ahli/tenaga penyuluh lapangan sangat mempengaruhi kecepatan adopsi biostimulant oleh petani untuk di gabungkan dengan praktik budidaya yang selama ini di jalankan.   Sikap petani terhadap inovasi, selera risiko mereka, dan kepercayaan mereka pada rekomendasi ilmiah sangat memengaruhi keputusan untuk mengintegrasikan biostimulan ke dalam praktik pertanian. Di pasar yang sudah mapan, seperti di Eropa dan amerika utara tingkat kesadaran yang tinggi dan budaya keberlanjutan yang kuat telah mendorong adopsi biostimulan baik pada tanaman bernilai tinggi maupun tanaman pertanian ekstensif. Sebaliknya, di pasar yang sedang berkembang, petani mungkin skeptis terhadap produk biologis baru karena akses terbatas terhadap informasi yang andal, praktik konvensional yang sudah mapan, atau keraguan tentang efektivitas produk. Oleh karena itu, program pendidikan, uji coba demonstrasi, dan jaringan berbagi pengetahuan sangat penting untuk mengatasi hambatan yang terkait dengan persepsi sosial. Faktor budaya juga memengaruhi jenis biostimulan yang disukai dan bagaimana penerapannya.

Semoga Indonesia termasuk negara yang bisa segera mengadopsi dan memanfaatkan biostimulant sebagai salah satu teknologi produksi pertanian yang berkelanjutan dan ekonomis.

#MDT#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *